Friday, November 4, 2011

pendaratan manusia di planet mars

SEJAK keberhasilan manusia menginjakkan kakinya di bulan melalui  misi Apollo 11  pada 20 Juli 1969 silam, mendaratkan manusia di planet Mars merupakan obsesi terbesar manusia untuk mencari tempat lain di alam semesta guna menopang kehidupan selain bumi.

Meski lebih jauh, Mars dipilih karena dianggap lebih memungkinkan didarati manusia dibandingkan Merkurius, Venus, dan Jupiter.  Merkurius yang letaknya paling dekat dengan Matahari terlalu panas sebagai tempat tinggal. Venus  yang punya selimut awan beracun dengan suhu 470 derajad Celcius akan  melelehkan semua material pesawat luar angkasa., Demikian pula Jupiter dan planet  luar lainnya. Mereka sangat jauh dari matahari, sehingga suhu permukaannya menjadi terlampau dingin.

Bulan, dengan rekayasa keras, bisa saja pada masa mendatang  diubah menjadi tempat tinggal yang layak huni dan nyaman.
Namun dari  ukurannya yang jauh lebih kecil ketimbang bumi tak akan sanggup menampung semua penduduk bumi. Karena itu, satu-satunya yang ”paling mungkin” untuk menjadi tempat tinggal bagi  manusia di masa depan hanyalah planet Mars.

Tantangan Terbesar

  Pendaratan  manusia ke Mars diperkirakan akan terlaksana pada tahun 2025 - 2030. Mars berjarak 78,34 juta kilometer dari bumi. Sekali perjalanan dari bumi ke Mars dan sebaliknya perlu waktu sekitar 9 bulan. Kondisi geologis di Mars banyak kesamaan dengan sejumlah tempat di Bumi, yaitu berupa kawah luas, gunung api, danau yang mengering, bekas daerah genangan air, hingga kehidupan mikroorganisma di bawah lapisan es.

 Sebelum mewujudkan impian itu, serangkaian penelitian dan pengembangan wahana antariksa serta penyiapan manusia untuk melakukan perjalanan lama dan pendaratan di lingkungan serba ekstrem sedang dilakukan.
Karena itu perlu dipikirkan juga pembangunan stasiun pengisian bahan bakar diantariksa. Seperti dikutip Innovation News Daily, 23 Mei 2011, NASA menyediakan tender senilai 200 juta dolar AS atau sekitar Rp1,7 triliun bagi yang mampu menunjukkan bagaimana menyimpan dan mentransfer bahan bakar roket di luar angkasa.

 Ide untuk membuka pom bensin di luar angkasa sendiri telah lama berkembang. Sebagai contoh, sebuah perusahaan asal Kanada tengah bersiap untuk meluncurkan stasiun pengisian bahan bakar di tahun 2015 mendatang. Namun pada proposalnya, NASA menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar mengisi ulang pesawat ruang angkasa di orbit Bumi. 

 Selain itu, NASA juga ingin secara khusus memanfaatkan oksigen dan hidrogen cair yang biasa digunakan untuk memasok daya bagi mesin pesawat ruang angkasa dan beberapa roket komersial.
Proposal yang ditawarkan mencari perusahaan yang mampu menyediakan penyimpanan zero-boil off oksigen cair dan setidaknya penyimpanan minimal boil-off hidrogen cair.

 Sebagai gambaran, hidrogen cair membutuhkan penyimpanan dengan suhu minus 218 derajat Celcius. Zat itu perlu dilindungi dari sumber panas eksternal seperti Matahari atau panas buangan mesin roket untuk mencegah terjadi pemuaian atau menyebabkan ledakan tangki penyimpanan.

 Perusahaan yang berminat untuk menyambut tantangan NASA juga harus mampu menunjukkan bagaimana zat cair ini ditransfer dalam lingkungan dengan gravitasi minimal di orbit Bumi.
NASA ingin secara khusus memanfaatkan oksigen dan hidrogen cair yang biasa digunakan untuk memasok daya bagi mesin pesawat ruang angkasa dan beberapa roket komersial.
 Sementara itu, Direktur Jenderal Badan Antariksa Eropa (ESA) Jean-Jacques Dordain mengatakan, pendaratan ke Mars merupakan tantangan terbesar umat manusia.

Namun, cita-cita ini tidak mungkin dilakukan oleh satu negara sendiri, seperti era pendaratan manusia di Bulan. Kerja sama internasional perlu dilakukan untuk menggalang sumber daya, termasuk biaya.
 Persoalan biaya membuat Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat  (NASA) menghentikan sementara program penerbangan pesawat ulang aliknya mulai tahun depan. Pengiriman selanjutnya akan dilakukan dengan menitipkan mereka ke penerbangan Badan Antariksa Rusia (Roscosmos) atau penerbangan komersial  milik perusahaan swasta yang pada beberapa tahun mendatang diramalkan bakal mendominasi pengiriman manusia ke luar angkasa.

Salah satu perusahaan pengiriman manusia ke luar angkasa, Virgin Galactic, akan memulai pengiriman turis untuk mengorbit Bumi pada tahun 2012 mendatang. Harga tiketnya 200.000 dolar AS atau sekitar Rp 1,8 miliar pulang-pergi.
 Harga itu hanya seperseratus harga yang harus dibayar turis antariksa pertama, Dennis Tito, pada 2001. Saat ini lebih dari 400 orang mendaftar.
Perusahaan penerbangan swasta lain, Bigelow Aerospace, berencana membangun stasiun antariksa swasta pertama. Proyek ini akan menggantikan Stasiun Antariksa Internasional (ISS) yang berakhir masa tugasnya tahun 2014-2020.

Kolonisasi Bulan

 Langkah lain untuk menunjang pengiriman manusia ke Mars adalah kolonisasi Bulan. Sejumlah perusahaan penerbangan antariksa swasta menyiapkan rencana untuk membangun perkampungan kecil di Bulan. Jika proyek ini terwujud, fasilitas itu dapat dijadikan tempat singgah manusia sebelum menuju Mars, baik untuk mengisi bahan bakar maupun mengatur waktu penerbangan memanfaatkan gravitasi Mars, sehingga bahan bakar yang digunakan bisa dihemat dan keselamatan antariksawan terjaga. Persinggahan lain yang sedang digagas adalah melalui dua satelit (bulan) planet Mars, yakni Phobos dan Deimos.

  McCuisition, Director of the Mars Exploration Program NASA, mengatakan, tantangan terbesar mendaratkan wahana berawak di Mars adalah menerbangkan pesawat antariksa berukuran sebesar stasiun antariksa yang ada saat ini, mendaratkannya ke Mars, dan membawanya kembali ke Bumi.
 Proses pendaratan wahana berawak itu juga harus memastikan antariksawan di dalamnya terlindung dari radiasi luar angkasa di Mars. Radiasi di Mars bisa mencapai puluhan hingga 2.000 miliar per hari.
Dosis radiasi ini mampu merusak sumsum tulang belakang hingga menyebabkan kematian dalam hitungan 4 minggu-5 minggu.

Tingginya radiasi di Mars disebabkan oleh tipisnya atmosfer dan rendahnya kekuatan medan magnet Mars. Medan magnet tak mampu menghalau radiasi Matahari, sinar kosmik, atau pun bintang lain.
 Menyiapkan antariksawan yang akan melakukan perjalanan ke Mars juga pelik. Mereka akan terpisah dari kehidupan Bumi dalam kondisi serba ekstrem sekitar 2 tahun.

 Pada 3 Juni 2010 - 5 November 2011, Institute of Biomedical Problems Rusia, bersama dengan Direktorat Penerbangan Antariksa Berawak, Badan Antariksa Eropa (ESA ) melakukan simulasi untuk mempelajari efek psikologis dan fisiologis yang akan dialami manusia dalam perjalanan panjang ke luar angkasa.

 Proyek itu sendiri dinamakan Mars500, karena mensimulasikan waktu yang diperlukan manusia untuk melakukan misi ke Mars di masa depan dengan menggunakan roket seperti saat ini. Misi diperkirakan memakan waktu 250 hari untuk sampai ke Mars, 30 hari untuk berada di permukaannya, dan 240 hari perjalanan kembali ke Bumi (total 520 hari). Namun pada kenyataannya, waktu yang diperlukan bisa saja lebih lama dari perkiraan ini.

 Mars500 memang belum berhasil membuat simulasi tanpa-berat konstan layaknya perjalan delapan bulan di luar angkasa. Namun misi itu telah berhasil menerapkan komunikasi antara anggota tim yang berada di dalam modul dan di luar modul, di mana perlu waktu tunda 20 menit untuk mencapai kedua titik itu. Waktu tersebut tidak jauh berbeda dari waktu yang harus ditempuh gelombang radio antara Mars dan Bumi. (24)

Ditulis Oleh : ircham yahya // 1:56 PM
Kategori:

0 komentar:

Post a Comment