Saturday, October 6, 2012

Dari Pesantren Untuk Bangsa

Masihkah kita meragukan peran dan kontribusi institusi pesantren untuk negara-bangsa ini? Sebaliknya, yangharus dipertanyakan adalah apa yang telah dilakukan pemerintah dalam membangun dan mengembangkanpesantren-pesantren di Indonesia.
Secara historis, keberadaan pesantren hampir bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transformasi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren.
Secara bahasa, pesantren tidak sepenuhnya merujuk pada kata dalam bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa Sanskerta. San berarti orang baik, dan tra berarti suka menolong.
Sedangkan lembaga tempat belajar itu pun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatra, pesantren disebut rangkang, meunasah, atau surau. Ini menunjukkan bahwa pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal.
Di Malaysia dan Thailand, lembaga ini dikenal dengan nama pondok. Kata ini merujuk pada bahasa Arab fundukyang berarti hotel atau penginapan, yang maksudnya adalah asrama. Jadi, meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.
Menurut KH. Imam Zarkasyi, dalam buku Pekan Perkenalan Pondok Modern Gontor, pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kiai sebagai sentral figurnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kiai yang diikuti santri sebagai kegiatannya.
Jadi, ada empat ciri utama pesantren. Pertama, pondok harus berbentuk asrama. Kedua, kiai sebagai sentral figur yang berfungsi sebagai guru, pendidik, dan pembimbing. Ketiga, masjid sebagai pusat kegiatan. Dan keempat, materi yang diajarkan tidak terbatas kepada kitab kuning saja.
Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Penulis Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSIST), dengan catur-pusat inilah, pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil).
Dengan demikian, karakter pendidikan pesantren bersifat menyeluruh. Artinya, seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan.
Di tengah gencarnya kampanye pendidikan berkarakter, pesantren justru sejak dari awal sudah menerapkannya. Tujuan pendidikan pesantren seperti halnya tujuan kehidupan manusia di dunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Santri tidak hanya disiapkan untuk mengejar kehidupan dunia, tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat.
Di sisi lain, saat ini sedang banyak dikembangkan sekolah-sekolah yang diberi label Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Tetapi jika kita melihatnya lebih dekat, sekolah-sekolah dengan label internasional tersebut hanyalah sekolah yang bertarif mahal (internasional), dan bukan sekolah yang berbahasa Inggris.
Ibaratnya, kita ingin anak kita menjadi artis, maka yang kita lakukan adalah mendandani anak kita dengan pakaian artis, bukan melatih vokal atau acting anak tersebut. Sekolah berstandar internasional yang sedang dirintis pemerintah juga dievaluasi dengan ujian nasional. Lalu, apa bedanya dengan sekolah berstandar nasional atau berstandar lokal?
Jika Anda ingin melihat sekolah berstandar internasional, eksistensi Pondok Modern Gontor adalah salah satu bukti konkretnya. Tidak hanya santri wajib berbahasa Arab dan Inggris, Gontor juga mampu menarik siswa dari luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunai Darussalam, Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan berbagai negara lainnya. Inilah sekolah bertaraf internasional, walaupun tanpa label sekolah internasional.
Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka dan jauh sebelum sistem pendidikannya mapan, pesantren dan alumni-alumninya telah banyak berperan—baik di nusantara maupun kancah dunia. Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-19, tercatat nama-nama sekaliber Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah al-Fansuri, Abdul Rauf al-Sinkili, Syekh Yusuf al-Makassari, Abdussamad al-Falimbani, Khatib Minangkabawi, Nawawi al-Bantani, Muhammad Arsyad al-Banjari, dan lain-lain.
Sosok-sosok alumni pesantren dan Timur-Tengah ini telah melahirkan karya-karya besar di bidang fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Citra intelektual dan ekspansi karya sosok-sosok ini bukan hanya sebatas taraf domestik nusantara, tapi juga sampai diakui di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Kontribusi Pesantren
Menurut Wahjoetomo, penulis buku Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan, perlawanan pesantren terhadap Belanda dilakukan dengan tiga cara.
Pertama, uzlah (mengasingkan diri). Mereka menyingkir ke desa-desa dan tempat terpencil yang jauh dari jangkauan kolonial. Tidak aneh, jika pesantren mayoritas berada di daerah pinggiran, pelosok, dan bahkan pedalaman.
Dengan hijrah ke pelosok-pelosok pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Raffles sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam berbagai pemberontakan.
Bambu Runcing yang terkenal sebagai senjata para pejuang kemerdekaan adalah inisiatif dari Kiai Subeki atau Mbah Subki yang kemudian diabadikan sebagai nama pesantren, yakni Pondok Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.
Kedua, bersikap nonkooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain mengaji dan menelaah kitab kuning, para kiai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya. Ketika Jepang memobilisasi tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah.
Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Misalnya, pemberontakan kaum Padri di Sumatra Barat (1821-1828) di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, pemberontakan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1825-1830), dan pemberontakan di Aceh (1873-1903) yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro.
Bahkan, besarnya pengaruh kiai tidak hanya terbatas pada masyarakat awam, tapi juga menjangkau istana-istana. Kiai Hasan Besari, dari pesantren Tegalsari Ponorogo, misalnya berperan besar dalam meleraikan pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.
Di zaman pergerakan pra-kemerdekaan, peran pesantren juga sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. HOS Cokroaminoto pendiri gerakan Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumni pesantren. KH. Mas Mansur, KH. Hasyim Ash’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Kahar Muzakkir adalah alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh.
Sesudah kemerdekaan, alumni-alumni pesantren terus memainkan perannya dalam mengisi kemerdekaan. Di antaranya, H.M. Rasyidi (alumni Pondok Jamsaren, Menteri Agama RI pertama), Mohammad Natsir (alumni Pesantren Persis menjadi Perdana Menteri), KH. Wahid Hasyim (alumni pondok Tebuireng), KH. Muslih Purwokerto dan KH. Imam Zarkasyi (alumni Jamsaren, anggota Dewan Perancang Nasional), KH. Idham Khalid (alumni Pondok Gontor, wakil Perdana Menteri dan Ketua MPRS).
Di era Orde Baru, di tengah maraknya pembangunan fisik yang disertai dengan proses marginalisasi peran politik umat Islam, kiai dan pesantren tetap memiliki perannya dalam membangun bangsa. Dampak pembangunan fisik yang tidak berangkat dari konsep character building adalah dekadensi moral, korupsi, tindak kekerasan dan lain-lain.
Akibatnya, pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik. Dalam kondisi seperti inilah pesantren muncul menjadi sebagai alternatif penting. Dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah di pesantren tidak pernah terjadi “tawuran”. Dan karena jiwa kemandirian di pesantren, tidak sedikit dari santri drop out justru sukses sebagai pengusaha dan social entrepeneur.
Ketika terjadi upaya konvergensi ilmu pengetahuan agama dan umum, medan distribusi alumni pesantren menjadi semakin luas. Penyeberangan santri ke perguruan tinggi umum menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Para santri ini kemudian mengembangkan kajian-kajian agama secara informal dan intensif yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memilik background agama.
Saat ini, peran pesantren tidak lagi langsung dimainkan oleh alumninya, tapi oleh murid-murid alumninya. Pergerakan mahasiswa, seperti HMI, PMII, IMM yang marak pada dekade 1970-an dan 1980-an, dan juga gerakan LDK, usrah-usrah dan intensifikasi aktivitas masjid kampus dan lain-lain, tidak dapat dipisahkan dari peran dan kontribusi alumni-alumni pesantren.
Kini di era reformasi, telah muncul sejumlah nama tokoh yang tidak lepas dari peran pendidikan pesantren—baik langsung maupun tidak langsung. Di antaranya, Amien Rais (pendiri PAN, ketua MPR RI), Abdurrahman Wahid (pendiri PKB, Presiden RI), Hidayat Nur Wahid (Presiden PKS, Ketua MPR RI), Hasyim Muzadi (Ketua PB NU), Nurcholis Madjid (Rektor Paramadina), dan Emha Ainun Najib (Budayawan).
Dr. H. R. Agung Laksono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, seperti dikutiprumahkitab.com mengungkapkan kebanggaannya kepada Pondok Pesantren. “Model pendidikan pondok pesantren masih tetap bertahan di segala zaman, tidak pernah lapuk dimakan usia. Seperti buah kelapa, bahkan semakin tua semakin banyak santannya,” ujar Agung.
Jika kini beberapa gelintir alumni pesantren dituduh terlibat dalam berbagai aksi teror, maka sangat naif kalau kemudian peran dan potensi pesantren dinafikan begitu saja. Padahal, kampanye perang global melawan terorisme merupakan akal-akalan Amerika dan sekutunya agar mereka dapat leluasa menjalankan agendanya mengokohkan hegemoninya atas umat Islam, khususnya dunia pesantren. (Salim/Febrianti)

sumber : http://sospolinaction.blogspot.com

Ditulis Oleh : ircham yahya // 5:26 PM
Kategori:

0 komentar:

Post a Comment