Saturday, January 12, 2013

Mengenal Nabi Lebih Dekat, Pesan-Pesan Transformatif Menyambut Bulan Maulid


Saat ini, manusia yang memilih Islam sebagai jalan hidupnya telah mencapai tidak kurang dari seperlima penduduk bumi, atau dua miliar lebih. Dari sekian banyak manusia yang berafiliasi kepada Islam, berapa orang yang benar-benar mengenal Muhammad Saw.?

Untuk mempercayai seseorang, selain dengan menggunakan argumentasi, juga dapat menggunakan unsur kedekatan. Bahkan, ketika seseorang telah benar-benar mengenal orang lain secara dekat, maka sangat sulit baginya mengingkari hal-hal yang bertentangan dengan apa yang telah dikenalnya selama ini. Di sinilah argumen itu sebenarnya berfungsi. Mengenal, mempercayai, baru kemudian membela.

Untuk mengenal seorang tokoh, kita memerlukan biografi, riwayat hidup, kesaksian orang-orang dekat, setting sosial, dan berbagai hal yang dapat membantu kita memahami sang tokoh. Dengan demikian, untuk mengenal saja, kadang-kadang kita kesulitan karena jarak yang amat jauh dari masa hidup sang tokoh. Namun, hal itu sebenarnya bukan penghalang untuk memahaminya secara utuh. Apalagi jika tokoh itu memiliki ratusan, bahkan ribuan teman yang selalu siap berbagi informasi tentangnya. Di mana, masing-masing dari mereka pernah mendapatkan kesan yang begitu mendalam, sehingga tidak akan pernah terlupakan walaupun umur sudah begitu tua untuk digunakan mengingat-ingat. Berkodi-kodi data telah dihimpun dan disusun secara rapi, dalam berbagai macam tema, sudut pandang, dan analisis-analisis yang beraneka ragam. Tokoh semacam ini sebenarnya tidak akan mudah dilupakan. Terutama bagi orang-orang yang sangat menghargai pengetahuan yang dalam bahasa Al-Quran sering disebut Ulul Abshar (untuk yang pandai memanfaatkan sarana fisik) dan Ulul Albab (untuk yang pandai menggunakan sarana batin).

Persoalannya, saat kita ingin memperkenalkan kepada orang lain yang tidak begitu intens mempergunakan sarana-sarana yang dimilikinya. Dalam hal ini tentu saja orang awam yang secara jumlah adalah umat mayoritas. Pertentangan antara perlu tidaknya peringatan kelahiran (ihtifal mauled), sebenarnya persoalan kaum elit cendekia. Bukan persoalan mereka yang awam. Tidak ada jaminan bagi mereka yang menolak peringatan mauled sudah benar-benar mengenal tokoh yang selama ini dianut. Seperti tidak ada jaminan pula bagi mereka yang memperingatinya, untuk benar-benar dengan mudah memahami apa yang disampaikan dalam bahasa arab, sebagai wasilah untuk mengenal. Namun semangat yang melatarbelakangi peringatan Maulid jelas merupakan ekspresi dari apa yang tersimpan dalam hati. Satu rasa kerinduan yang begitu dalam untuk mencintai sang junjungan. Perasaan itu adalah modal pertama untuk kembali mengenal lebih dekat, tokoh yang selama ini dianut.

Dalam sebuah cerita pendek, dikisahkan seorang anak perempuan sangat rindu kepada hadirat Nabi. Di saat teman-temannya saling berkompetisi adu cepat bertemu idola masing-masing, ia hanya diam menyembunyikan tokoh idolanya. Namun keyakinannya sangat kuat. Walaupun teman-temannya menertawakannya, saat tahu siapa ternyata yang menjadi idolanya. Bukan artis, tapi Sang Nabi yang telah tiada. Di saat semua kecut, hanya dia sendiri yang semangat. Mengharap segera bertemu dengan orang yang paling dirindukannya. Di akhir cerita, anak SMA itu berhasil bertemu Nabi dalam mimpinya. Cerita ini mungkin hanya fiktif, tapi itu merupakan cerminan dari fakta sosial yang mengatakan ‘Jarang sekali orang benar-benar mengenal siapa Muhammad saw.? Apalagi untuk merindukan sosok seperti Beliau.’

Keberadaan kita pada abad ini, merupakan keistimewaan tersendiri. Walaupun tidak pernah bertemu Nabi. Kita adalah orang yang percaya sekaligus tidak pernah bertemu dengannya. Suatu ketika, Seorang sahabat bertanya, “Rasulullah! Apakah ada manusia yang lebih baik daripada kami. Kami masuk Islam di tanganmu. Kami juga berjihad bersamamu?” Rasulullah menjawab, “Benar. Sekelompok manusia yang hidup setelah kalian. Mereka percaya kepadaku, walaupun mereka tidak pernah melihatku.”

Riwayat lain mengatakan, “Umatku ibarat hujan. Tidak pernah diketahui mana yang paling baik. Awal atau akhirnya.” Al-Qadhi ‘Iyadh menuturkan, setiap generasi memiliki keunggulan dan keistimewaannya sendiri. Generasi awal menjadi begitu istimewa karena beriman setelah menyaksikan mukjizat secara langsung dan menerimanya dengan baik. Sedangkan generasi akhir percaya pada sesuatu yang tidak terlihat (gaib) setelah menyaksikan tanda-tanda, dan menerima dengan baik serta secara suka rela. Jika umat awal berperan dalam menegakkan agama, maka umat yang akhir berperan menjaga ketegakannya. Artinya, potensi generasi awal dan akhir adalah sama. Setiap tetesan air hujan selalu memiliki peran dalam menumbuh-kembangkan tanaman. Demikian pula dengan generasi awal dan generasi yang lebih akhir, sama-sama punya potensi dan peran dalam mewujudkan Khairu Ummah.

Maulid, Momen Melakukan Perubahan
Penjelasan Al-Qadhi di atas, memberikan semangat kepada kita untuk selalu melakukan perubahan menuju yang lebih baik. Kita punya potensi sama seperti generasi masa Nabi. Kita bisa menjadi shalih, makmur, dan ideal.

Dari tidak mengenal Nabi, menjadi orang yang paling tahu tentang beliau. Dari yang tidak pernah mengamalkan ajarannya, menjadi orang yang paling gigih mengamalkan. Dari yang tidak konsisten, menjadi konsisten. Dari kemalasan menjadi penuh semangat. Beberapa hal ini adalah contoh perubahan diri sendiri.

Di ruang publik (sosial), perubahan yang dilakukan individu-individu itu tentu saja dapat memberikan pengaruh yang tidak sedikit. Ke-shalih-an sebagai simbol keunggulan spiritual, mendorong terwujudnya ketenteraman sosial. Di mana arti agama dapat benar-benar terwujud. Agama terbentuk dari bahasa sangsekerta ‘Gama’ yang berarti kacau, ditambah imbuhan ‘A’ berarti anti atau tidak. Dengan demikian agama berarti anti atau tidak kacau alias tenteram. Baik ketenteraman individu maupun sosial. Agama yang menjadi ancaman bukanlah agama sebenarnya.

Kemakmuran dan kesejahteraan merupakan nilai ideal yang diharapkan oleh hampir setiap manusia. Pada dasarnya, berbagai macam teori ekonomi –mulai dari kapitalisme klasik, komunisme, hingga neoliberal- coba dirumuskan untuk mencapai titik ideal ini. Namun kadang kala harus dibayar dengan mahal, dengan hilangnya semangat ke-shali¬h-an dan cita ideal yang ingin dicapai. Semangat berusaha dalam sistem kapitalis, telah mendorong banyak manusia bersifat rakus. Menghalalkan segala cara untuk mencapai keuntungan tertentu. Sebaliknya, komunisme memberikan otoritas mutlak kepada penguasa untuk mengontrol pemerataan kesejahteraan. Pemimpin-pemimpin tiran dan diktator banyak muncul dalam wilayah-wilayah yang menerapkan sistem komunisme. Dengan demikian, pada dasarnya dilihat dari efek yang ditimbulkan, kedua teori ini telah menyengsarakan umat manusia. Dan untuk menghindarkan dari dampak negatif dari sistem yang diterapkan, perilaku manusia harus dikendalikan. Sikap-sikap diktatorisme harus dilawan dengan kearifan. Sikap-sikap rakus yang menerjang norma-norma sosial-agama harus dihentikan. Di sinilah pentingnya akhlak. Apapun sistem yang diterapkan, selama ditopang perilaku yang baik pula, insyaallah dapat membawa kesejahteraan. Sebuah bangsa tidak akan hancur oleh kebebasan. Ia hanya hanya akan hancur oleh keburukan budi pekerti. Cina, dengan konsep budi pekerti ala konfusianis, dapat bertahan dari kehancuran seperti yang menimpa Uni Soviet.

Itu semua adalah cita-ideal yang dalam bahasa filsuf Islam klasik disebut Sa’adah. Kita tahu, kelahiran Rasulullah di muka bumi ini adalah untuk mewujudkan Sa’adah bagi umat manusia. Maka dengan datangnya bulan maulid kali ini, ke depan, nilai ideal semacam itulah yang harus kita perjuangkan bukan?

sumber :www.misykat.lirboyo.net

Ditulis Oleh : ircham yahya // 7:22 PM
Kategori:

0 komentar:

Post a Comment